Jumat, 25 Maret 2016


Hasil gambar untuk cover novel pulang


“Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit."
Kisah seorang pemuda yang biasa dipanggil “Bujang”. Lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di Bukit Barisan. Bapaknya adalah mantan tukang pukul dari keluarga penguasa shadow economy, yaitu Keluarga Tong. Bujang diajak Tauke Besar ke kota dan tinggal bersama Keluarga Tong . Dan dari situlah Bujang mulai memupuk mimpinya untuk menjadi tukang pukul yang tangguh seperti bapaknya. Namun, Tauke Besar tidak mengizinkan Bujang untuk menjadi tukang pukul, karena Bujang adalah anak yang sangat cerdas. Tauke Besar menyuruh Bujang untuk sekolah. Namun, Bujang tidak ingin sekolah. Jika dia sekolah, lalu bagaimana ia bisa menjadi tukang pukul? Tapi pada akhirnya dia bisa.

   Tere Liye dengan ciri khasnya selalu menghadirkan cerita yang penuh dengan kejutan dalam setiap karya tulisannya.Begitu juga dengan buku ini.Banyak sekali kejutan dan ketidaksangkaan dalam buku ini. salah satunya adalah pada bab pengkhianatan yang terjadi anatar sesama anggota Keluarga Tong. Ketika sesama anggota Keluarga Tong saling bertarung. Melampiaskan seluruh kebencian, dendam. Dan pada saat itulah Keluarga Tong hancur. Seluruh harta dan kekuasaan direnggut oleh Sang Penkhianat. Namun masih ada anggota Keluarga Tong yang masih setia. Mereka akan membalas semua pengkhianatan ini. Mereka akan mengambil balik seluruh harta dan kekuasaan kembali ke tangan mereka.

  Buku yang sangat menginspirasi dan menarik.Dengan alur maju-mundur, cukup membuat buku ini menjadi bagus pada setiap babnya. Serta adegan-adegan yang yang sangat mengejutkan. Itulah kehebatan Tere Liye. Selalu bisa membuat pembacanya seperti merasakan suasana yang diceritakan . Tidak akan kecewa dan bosan untuk membacanya.

2 komentar:

  1. Tetap semangat...
    Semakin bagus gaya penulisannya.
    trus berlajar ^_^

    BalasHapus
  2. Terima kasih mbak Laila. ini juga berkat nasehat dan saran dari mbak laila.

    BalasHapus